Diriwayatkan dari Harits Bin Hassan Al Bakri yang mengatakan, "Kami datang ke Madinah, saat itu dan Rasulullah Sallallahu'alaihi wa Sallam sedang berada di atas mimbar, sementara itu Bilal berdiri dekat dengan beliau dengan pedang di tangannya. Dan di hadapan Rasulullah terdapat banyak rayah (panji) hitam. Lalu aku bertanya:"Ini panji-panjii apa?"Mereka pun menjawab: "(panji-panji) Amru Bin Ash, yang baru tiba dari peperangan."
Wahai kaum Muslimin! Itulah bentuk, corak dan warna bendera Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa Sallam. Hadis-hadis yang diriwayatkan menggambarkan dengan jelas akan bendera dan panji Nabi Sallallahu 'alaihi wa Sallam dan tidak ada spesifikasi lain selain ini. Yang tertulis padanya hanyalah satu kalimah yang Rasulullah diutus karenanya. Kalimah yang telah dibawa dan diperjuangkan oleh
Sallallahu 'alaihi wa Sallam dan para sahabat. Kalimah yang para pendahulu kita telah syahid kerana mempertahankannya. Dan kalimah inilah yang akan kita ucapkan di kala Izrail datang menjemput. Inilah kalimah tauhid yang menyatukan kita semua tanpa melihat bangsa, warna kulit, persamaan geografi dan sebagainya. Inilah kalimah yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah di akhirat nanti. Inilah kalimah yang ada pada bendera Rasulullah
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa Sallam.....kalimah "LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMAD RASULULLAH".
Mereka menyertai peperangan demi peperangan untuk menyebarkan risalah Allah dan rahmatNya. Mereka membuka negeri demi negeri untuk menyatukannya ke dalam Daulah Islam. Dalam setiap peperangan dan pembukaan negeri- negeri, mereka tidak pernah lalai dari membawa bendera Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa Sallam. Itulah bendera yang mereka warisi dari Nabi mereka dan mereka sanggup mati dengan bendera di tangan. Sebagaimana lagu dan irama,
Bendera Sebagai Syi'ar Islam
Dulu kaum Muslimin hanya hidup untuk Allah dan mati untuk Allah. Mereka benar-benar memahami ayat-ayat Allah bahwa mereka dicipta hanya untuk beribadah kepadaNya. Oleh itu, mereka tidak ragu-ragu untuk menyerahkan nyawa mereka di jalan Allah. Mereka menyertai peperangan demi peperangan untuk menyebarkan risalah Allah
Di antara peperangan yang begitu menyayat hati kita umat Islam ialah Perang Mu'tah yang terjadi pada bulan Jamadil Awal tahun ke-8 H. Di dalam perang ini, Rasulullah menghantar 3 ,000 pahlawan elit Islam untuk bertempur dengan pasukan Romawi. Baginda mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang dan bersabda,"Jika Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib akan menggantikan tempatnya, jika Ja'far gugur, maka
Abdullah bin rawalah akan
menggantikan tempatnya" Pasukan pun berangkat dengan disertai Khalid bin Al-Walid yang baru memeluk Islam setelah Perjanjian Hudaibiyyah. Di dalam perjalanan, mereka telah mendapat informasi bahwa Malik bin Zafilah telah mengumpulkan 100 ,000 tentara sementara Heraklius sendiri datang dengan 100 ,000 tentara. Berita ini menyebabkan pasukan Islam berbeda pendapat apakah harus terus berperang atau mengirim
utusan untuk meminta bantuan tambahan dari Rasulullah.
Namun Abdullah bin Rawahah terus maju ke hadapan kaum Muslimin dan berkata dengan lantang dan berani,"Wahai sekelompok kaum! Demi Allah! Sesungguhnya apa yang kalian benci justru itulah yang kalian cari, yaitu syahid! Kita keluar memerangi musuh bukan karena jumlah atau kekuatan atau berdasarkan jumlah, tetapi kita memerangi mereka demi Dinul Islam,
yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Oleh karena itu berangkatlah! Sesungguhnya di tengah kita ada dua kebaikan; menang atau syahid"Kata-kata ini telah membakar semangat mereka, lalu mereka pun berangkat dengan penuh keimanan untuk menggempur musuh semata-mata karena Allah. Maka terjadilah peperangan di tempat yang bernama Mu'tah, di mana di tempat inilah Allah telah membeli beberapa jiwa kaum Muslimin
untuk dibayar dgn syurgaNya.
Sejumlah 3,000 pasukan Islam berjuang habis- habisan melawan 200 ,000 tentera musuh. Satu perbandingan yang tidak masuk akal jika difikirkan secara logik. Tetapi itulah hakikat umat Islam, umat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dibantu olehNya pada setiap peperangan. Umat yang hidup di dunia ini hanya untuk Allah. Zaid bin Haritsah yang merupakan panglima perang terus maju menggempur pasukan musuh
dengan membawa bendera Nabi Sallallahu 'alaihi wa Sallam di tangan. Akhirnya sebatang tombak menembusi tubuhnya dan beliau akhirnya gugur. Bendera segera diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib, seorang pemuda yang baru berusia 33 tahun. Ketika musuh telah mengepung kudanya dan menciderai tubuhnya, Ja'far justeru turun dan terus menuju ke tengah- tengah musuh mengayunkan pedangnya. Tiba-tiba seorang tentera Romawi
datang dan berhasil memukulnya. Pukulan itu menyebabkan tubuh Ja'far terbelah dua dan beliau syahid menemui Tuhannya. Bendera lalu disambar oleh Abdullah bin Rawahah dan terus dibawa dengan menunggang kuda menuju ke tengah musuh. Beliau juga turut syahid menyusuri kedua sahabatnya. Bendera lalu diambil oleh Tsabit bin Arqam seraya berteriak, "Wahai kaum Muslimin! Berkumpullah disekeliling seseorang.
"Lalu kaum Muslimin pun berkumpul mengelilingi Khalid bin Al- Walid dan bendera Nabi terus diserahkan kepada Khalid yang kemudian terus memimpin pasukan.
Bendera inilah yang menyaksikan berapa banyak sahabat telah syahid demi mempertahankannya. Bendera yang dipegang erat oleh para sahabat agar ia tidak jatuh menjamah bumi. Bendera yang benar-benar dipertahankan oleh para pemimpin dan pejuang dari kaum Muslimin yang mulia sebagai syi'ar Islam. Bendera yang bagi setiap orang yang mengucap syahadah, ia sanggup mati kerananya di dalam setiap perjuangan,
Wahai kaum Muslimin! Begitulah sedikit kisah perjuangan golongan awal yang merupakan generasi terbaik umat Islam dengan membawa bendera Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa Sallam. Bendera yang menjadi rebutan para sahabat untuk memegangnya di setiap peperangan.